Beranda Artikel Jambore Teknologi dan Prospek SMK
Saturday, 23 August 2014
Jambore Teknologi dan Prospek SMK
Sunday, 01 August 2010 13:12


Tajuk Rencana harian Suara Merdeka, 31/7/2010

Pendidikan berorientasi lapangan kerja belakangan menjadi perhatian masyarakat, seiring dengan fakta besarnya jumlah pengangguran, yang pada 2010 mencapai 7,6% atau 9,26 juta jiwa, 10% di antaranya sarjana. Data mengindikasikan, makin tinggi pendidikan makin tinggi tingkatan pengangguran.

Orientasi pragmatis akhirnya menjadi pilihan, bagaimana pendidikan meluluskan siswa siap pakai sesuai dengan kebutuhan praktis di bidang infrastruktur pembangunan, baik sebagai pekerja industri maupun administrator pemerintah.

Fakta ini menjadi angin segar bagi kampanye Sekolah Menengah Kejuruan dengan slogan ”SMK Bisa”. Kemendiknas pun menyiapkan enam langkah, yakni menambah unit sekolah baru, alih fungsi SMA, menambah rombongan belajar, penambahan program, membuka SMK dan menghentikan sementara izin pendirian SMA. Dengan kebijakan ini jumlah SMK meningkat.

Jika pada 2003 secara nasional siswanya 1.732.430 orang dan jumlah SMK 4.480 unit, pada Desember 2008 siswanya menjadi 2.738.962 orang dan jumlah SMK 6.746 unit.

Karya-karya mereka membanggakan. Siswa SMKN 29 Jakarta mampu membuat sebagian kecil komponen pesawat, dan merakit pesawat meskipun sebagian besar komponennya impor. Pesawat Jabiru: J200 itu dipamerkan di Pekan Raya Jakarta, 2009. Lima siswa Jurusan Teknis Mesin dan Otomotif SMK Purwosari, Pasuruan, Jawa Timur juga berhasil membuat mobil bak terbuka bermesin empat langkah dengan empat silinder, 16 katup kapasitas mesin 1.500 cc, DOHC sehingga bersuara lebih halus, dan irit bahan bakar.

Jambore Teknologi 2010 di Semarang, mulai Jumat kemarin hingga Minggu besok juga menjadi ajang mereka. Sebanyak 367 dari total 1.102 SMK di Jawa Tengah ikut serta. Dua ratus siswa akan unjuk kebolehan merakit 1.000 laptop, menandai pembukaan acara ini. Namun semua itu belum sepenuhnya mengubah persepsi SMK sebagai pendidikan nonakademis, kelas kedua, atau penghasil tukang. Maka ke depan, pengembangan kompetensi unggulan siswa harus jadi prioritas, agar mereka mampu menciptakan peluang kerja.

Pengembangan kompetensi diharapkan meningkatkan keterserapan lulusan. Hingga 2007 persentase dan proyeksi akomodasi lulusan SMK meningkat, namun belum menggembirakan. Secara nasional, lulusan SMK hingga 2006 berjumlah 628.285 orang, sedangkan proyeksi kebutuhan tenaga kerja lulusannya pada 2007 sebesar 385.986 orang atau hanya sekitar 61,43%. Jumlah ini memang belum ideal, sehingga perlu diupayakan peningkatan daya serap lulusan untuk memasuki lapangan kerja dan menciptakan peluang kerja.

Meningkatkan mutu SMK hendaknya menjadi prioritas utama. Namun harus tetap kita jaga agar lembaga pendidikan menjadi media transformasi nilai dan instrumen humanisasi, bukan jaringan korporasi (konglomerasi) yang hanya berorientasi profit, kapitalisme, dan pragmatisme. Jika kita terjebak pada ”ideologi” tersebut, identitas lembaga pendidikan sebagai media memanusiakan-manusia dan kaum-kaum terdidik dan bermoral, akan terpasung. Maka pembangkitan SMK jangan hanya untuk pemenuhan nafsu kapitalisme. Sumber Suara Merdeka