<![CDATA[YPPTI - Blog]]>Mon, 09 Mar 2020 19:57:53 -0700Weebly<![CDATA[Toleransi di pelosok papua]]>Mon, 09 Mar 2020 04:48:05 GMThttp://yppti.org/blog/toleransi-di-pelosok-papuaPenulis : 
Pritha Aritonang

Picture

" Ibu, sudah tahu makan Papeda ?" Tanya mama Orpha kala itu, saat pertama kali aku sampai di Kampung Benawa.

"Belum tahu mama, tapi saya coba makan ", jawabku ke mama.

Saat papeda ku makan, dan mulai melewati tenggorokanku, terasa lengket dan membuat aku sedikit merasa mual.

Mama melihatku, kemudian berkata:
" Pelan pelan saja Ibu, kalau belum biasa memang rasanya agak aneh di mulut, makan sedikit saja, jangan dipaksa".

Mendengar mama menyampaikan permakluman dan paham akan apa yang aku rasakan, membuatku lega. Aku ingin cepat beradaptasi dan mencoba semua makanan baru, namun butuh proses juga untuk menyesuaikannya.

Oiya, Papeda adalah makanan berupa bubur sagu khas Maluku dan Papua yang biasanya disajikan dengan ikan yang dimasak dengan dibumbui kunyit (Ikan Kuah Kuning). Papeda juga merupakan makanan utama masyarakat Papua, pun Kampung Benawa Satu.
 
Selama berada di Kampung, banyak makanan yang memang belum pernah kutemui, apalagi dikonsumsi sebelumnya. Papeda adalah salah satunya. Masih ada ulat sagu, kumbang, ujung sagu, jamur dan banyak jenis makanan lain.
Bisa beradaptasi, kemudian menyesuaikan dengan cepat tentu menjadi keinginanku. Tetapi apa daya, semua membutuhkan proses.
 
Dalam proses penyesuaian ini, aku terpesona dengan penerimaan dan toleransi dari keluarga piara bahkan masyarakat secara umum terhadap proses yang kulalui. Mereka tak memaksaku untuk segera mengikuti setiap kebiasaan disini.
 
Bapa Mama di kampung, bahkan dengan besar hati memahami bahwa kita memang beragam, ada kebiasaan , keyakinan berbeda dan sah sah saja. Suatu kali seorang teman muslim menginap di rumah. Makanan yang ada saat itu adalah daging babi hasil buruan Bapak. Mama menyampaikan, tidak mungkin memasak makanan ini, sementara ada temanku yang tidak bisa memakannya.  

Mendengar penyampaian mama, Bapakku pergi lobe ikan (memburu ikan dengan tombak) di Sungai. Dan yang kuingat saat itu, Bapak pulang membawa satu ekor ikan gabus besar. Mamaku lega, karena bisa membuatkan makanan yang tepat untuk temanku.
 
Aku terpesona, melihat betapa mereka memikirkan orang lain, di tengah mayoritas keyakinan yang sama di Kampung Benawa. Perbedaan yang ada, justru membuat mereka semakin menghargai satu sama lain. Walaupun dengan kondisi kampung yang jauh dari kemajuan, justru rasa tenggang rasa satu sama lain terasah dengan baik.
]]>
<![CDATA[RENI MOINE : Menularkan semangat pendidikan]]>Mon, 24 Feb 2020 07:34:36 GMThttp://yppti.org/blog/reni-moine-menularkan-semangat-pendidikanPenulis :
​Fevrina Leny Tampubolon, dkk.

Picture
​Reni Moine atau yang akrab dipanggil Kakak Reni lahir di Benawa Satu, Distrik Kais, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat, pada tahun 1983. Kakak Reni merupakan istri dari  Marius Akerae, Baperkam kampung pemekaran Mokere. Kakak Reni aktif sebagai Bendahara PKK kampung Mokere dan juga merupakan kepala borongan. Walaupun memiliki pengaruh yang cukup besar, akan tetapi Kakak Reni belum memiliki kepedulian yang besar terhadap pendidikan anaknya. Pada awal program Kakak Reni tidak mempedulikan perkembangan belajar anak-anaknya dan bahkan membiarkan saja bila anak-anaknya bolos sekolah. Kehadiran penggerak cukup membawa pengaruh bagi Kakak Reni. Kegiatan pembelajaran yang aktif, peningkatan kemampuan baca tulis dan hitung anak-anak serta diskusi melalui home visit yang dilakukan Penggerak berhasil merubah cara pandang dan perilaku Kakak Reni.
 
Kakak Reni menunjukkan perubahan yang cukup progresif terutama dalam mendorong dan mendampingi anak-anaknya di bidang pendidikan. Pemahaman akan pentingnya pendidikan serta pengawasan dalam proses perkembangan belajar anak, mendorong Kakak Reni untuk memenuhi  kebutuhan dasar sekolah untuk anak-anaknya seperti menyediakan alat tulis, buku, seragam dan kebutuhan lainnya. Selain memenuhi kebutuhan dasar, Kakak Reni juga mengharuskan anaknya untuk lulus SMA,  Kakak Reni juga mendorong anaknya yang SD untuk aktif hadir di Sekolah. Kakak Reni dengan sengaja meninggalkan anaknya yang duduk di bangku SD dengan nenek di kampung agar bisa masuk Sekolah.  Kepedulian terhadap masa depan pendidikan anaknya juga mendorong Kakak Reni untuk mulai menabung. 

Picture
Kesadaran akan pentingnya pendidikan yang sudah terbangun dalam diri Kakak Reni mendorongnya untuk lebih terlibat aktif dalam pengembangan pendidikan di kampungnya. Kakak Reni mulai aktif di kegiatan sekolah dan memberikan suara atau kritik atas kebijakan-kebijakan yang dibuat sekolah. Kakak Reni juga mempengaruhi orang tua lain untuk semakin peduli akan pentingnya mendukung pendidikan anak. Komunikasinya yang baik membuat orang lain dapat menerima dan memahami pesan yang disampaikan dengan baik.
 
 “apa yang anak guru dong kasi tahu ke kami orang tua ini, itu baik bagi tong pung anak pung masa depan. Anak guru selalu kasih tahu kalau temani anak belajar itu wajib buat orang tua. Guru-guru dong itu kan tra tinggal deng tong pung anak, dong hanya tahu tong anak itu pas di sekolah saja. Makanya orang tua itu yang harus kerja keras buat anak juga. Anak pung jam belajar itu tong harus arahakan, tong kontrol. Duduk disamping anak saat dia belajar itu perlu to. Jadi tong orang tua juga bisa tau, anak ini selama ini dia nbenaran belajar kah trada. Betul kah trada dia bilang pi sekolah, jang sampe dia tipu kami lagi kan tra baik to. Jadi betul sudah yang anak guru dong bilang. Dan yang sa su buat ke sa pung anak anak yang dong ada sekolah banyak-banyak tuh, sa duduk temani dorang. Sa baku tanya deng dorang, dong di sekolah itu guru ajar kam baran apa sajakah? Baru dong mengerti kah trada kalau guru dong ajar di sekolah. Kalau anak guru ini dong tra datang dari yayasan ini, kami orang tua ni tra tau e bisa tahu anak-anak dong pung pendidikan baik kah trada e. jadi sa bersyukur anak dari yayasan dong datang ke kampong ini buat ajar kami didik anak.”
 
Selain terlibat aktif untuk memajukan pendidikan, Kakak Reni juga cukup aktif dalam kegiatan pemerintahan kampung. Pendampingan penggerak memberikan penyuluhan terkait tupoksi aparat kampung berhasil meningkatkan pengetahuan Kakak Reni terkait tupoksi aparat kampung.  Pemahaman tupoksi aparat kampung mendorong Kakak Reni lebih aktif dalam mengkritisi kinerja aparat kampung. Sebagai istri aparat kampung pemekaran, pemahaman tupoksi aparat kampung juga digunakan untuk mengingatkan tugas dan peranan suaminya.  Lebih dari itu Kakak Reni aktif mendukung ketua PKK kampung pemekaran menjalankan kegiatan PKK.
 
Kakak Reni aktif terlibat dalam berbagai kegiatan dan pendampingan yang dilakukan penggerak salah satunya pendampingan tata boga. Dalam kurun waktu kurang dari 1 tahun, Kakak Reni mampu belajar dan membuat lebih dari 10 resep kreasi kue baru. Saat ini di kampung Kakak Reni diakui juga sebagai salah satu mama yang  cukup baik dalam memasak dan selalu terlibat masak di berbagai acara di kampung. Kakak Reni sudah tahu membuat beberapa macam roti, kue basah, dan kue kering, Bahkan kakak Reni suka berinisiatif sendiri membuat kukis untuk kemudian dijualnya sendiri di kampung atau di perusahaan. Sebagai anggota kelompok tata boga kakak Reni juga berpartisipasi membuat kukis bila ada pesanan kukis sagu dari luar. Pengetahuan yang sudah diperoleh Kakak Reni dalam kelompok boga digunakan juga untuk mengembangkan PKK desa pemekaran.  
 
“Kalau tarada Pa Guru di sini yang ajar kitong buat macam-macam kue, kitong mama-mama ini tarada yang tau buat kue-kue baru begini o.

]]>
<![CDATA[KITA SAMA, KITA INDONESIA]]>Tue, 18 Feb 2020 15:16:25 GMThttp://yppti.org/blog/kita-sama-kita-indonesiaPenulis :
Pritha Aritonang

.

"Kakak, Papua itu Indonesia kah?"

Lain waktu pertanyaan lain muncul, "Kakak,kenapa kitong punya rambut keriting tapi kakak pu rambut Lolo ( Lurus)?"

"Kalau boleh kitong pu rambut lurus boleh."

Pertanyaan pertanyaan yang membuat saya terkejut, karena dilontarkan oleh adik angkat saya yang umurnya  baru 9 tahun
"Kakak, Papua itu Indonesia kah?"

Lain waktu pertanyaan lain muncul, "Kakak,kenapa kitong punya rambut keriting tapi kakak pu rambut Lolo ( Lurus)?"

"Kalau boleh kitong pu rambut lurus boleh."

Pertanyaan pertanyaan yang membuat saya terkejut, karena dilontarkan oleh adik angkat saya yang umurnya  baru 9 tahun.

Dan dengan segera saya jawab,
"Tentu saja, Papua itu adalah bagian dari Negara Indonesia."
Saya menjelaskan seraya menunjukkan Atlas yang memuat Peta Indonesia dan dimana tepatnya Papua berada dan menceritakan ada pulau apa saja selain Papua, dan tentu saja semua adalah bagian dari Negara Indonesia. Dan rambut keriting tidak lantas mengurangi nilai mereka sebagai satu kesatuan Indonesia.
 
Tak pernah terbayang ataupun terbersit dalam angan sekalipun, berkesempatan untuk tinggal, belajar bersama, berproses bersama di pulau paling timur dari Indonesia ini, Papua.

Surga kecil yang jatuh ke bumi, bukan tanpa alasan kalimat ini diucapkan. Kekayaan alam melimpah, masyarakat dengan adat yang sangat kental dengan budaya berbagi, gotong royong dan satu hal yang paling hebat adalah toleransi. Tidak memaksakan apa yang dirasa benar.

Saya tinggal di salah satu desa di Kabupaten Sorong Selatan yang bernama Benawa, jika dihitung waktu tempuh dari Sorong, perjalanan menuju desa Benawa  adalah 10 jam dengan perjalanan darat dan laut.

Sekolah ada, namun saat saya sampai, guru sudah tidak mengajar dan hanya datang saat ujian nasional dalam lima tahun terakhir. Tingkat baca tulis cukup rendah saat itu. Saya memilih untuk bermain dan belajar huruf bersama adik adik, belajar yang tak harus digedung tetapi bisa dimana saja. Di pinggir sungai, di bawah pohon, bahkan di sebua ( Rumah Adat).
 
Perlahan tapi pasti, adik adik mulai mengenal huruf, mengeja, membaca dan kami belajar mengenai banyak hal yang ada di pulau-pulau lain. Perlahan tapi pasti, penyadaran mengenai pentingnya pendidikan dan kehadiran guru mulai kami gaungkan. Karena walaupun adik-adik berada jauh dari kota, mereka pun berhak untuk mendapatkan pendidikan, dan tenaga pendidik yang layak. Januari tahun 2018 adalah momen tak terlupakan,  karena guru yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang, setelah perjuangan dua tahun menunggu. Adik adik senang bukan kepalang, karena aktivitas di sekolah akan dimulai. Perjuangan panjang, yang tentu saja memerlukan pelibatan dan peran orang tua, aparat kampung , pihak gereja bahkan dinas pendidikan hingga pemerintahan yang lebih  tinggi saat itu.

Selain kehadiran guru, perpustakaan mini dengan berbagai buku bacaan anak juga sudah ada di Benawa. Sehingga adik adik bisa mengakses pengetahuan lebih luas lagi lewat membaca.
 
Perkembangan lain yang tak kalah penting adalah melihat peran dan keterlibatan orang tua secara langsung dalam pendidikan anak, terutama di rumah. Penyadaran bahwa belajar tak melulu harus dilakukan di Sekolah, tetapi juga bisa dilakukan saat di hutan, tokok sagu, berburu dan menangkap ikan di Sungai.

Tentu saja dibutuhkan peran berbagai pihak agar semua hal yang sudah dimulai ini berjalan dengan baik kedepannya.

Walaupun bentuk kita berbeda, kita tetap satu Indonesia.
 
Perbedaan ini justru membuat keunikan pada setiap kita, perbedaan justru membuat kita belajar untuk belajar mengenai banyak hal

​Perbedaan justru membuat kita bersatu lebih erat lagi. Semangat inilah yang seharusnya terus kita gaungkan, bahkan sampai di tempat adik adik kita di Papua.
 
Kalian tahu? Mendengarkan suara adik adik menyanyikan Indonesia Raya dengan lantang,  melihat mereka selalu bangun lebih pagi untuk sampai di Sekolah lebih dulu, mendengarkan keseriusan dalam merangkai huruf menjadi kata dan kalimat, membuatku yakin suatu saat akan muncul pemimpin baru dari Benawa , Papua Barat, Indonesia.
 
Kita Sama, Kita Indonesia.

Saya berharap, pendidikan layak, akses untuk berkembang tak hanya bergaung di Kota besar saja, tetapi juga akan sampai ke Papua.

Dan semua anak anak Indonesia dari Sabang sampai Merauke, Jakarta sampai Papua bisa dengan bangga bisa berkata, Ini Kami Indonesia!
]]>
<![CDATA[Nasia Damawe]]>Wed, 12 Feb 2020 00:01:07 GMThttp://yppti.org/blog/nasia-damawe
Selamat datang di blog kami, para penggerak Sorong Selatan. Nantikan cerita-cerita kami!
]]>