<![CDATA[I - Blog]]>Thu, 02 Jul 2020 14:01:35 -0700Weebly<![CDATA[Wonder Mother of Ikana Mukamat]]>Wed, 06 May 2020 01:24:52 GMThttp://yppti.org/blog/wonder-mother-of-ikana-mukamat

Pernah merasakan tinggal di kampung Ikana Mukamat, Distrik Kais Darat, Kabupaten Sorong Selatan membuatku sungguh kagum dengan sosok ‘mama’ di sina. Bayangkan saja, hampir sebagian besar pekerjaan rumah dikerjakan oleh mama. Ketika mendengar kata ‘pekerjaan rumah’, yang muncul di pikiran kita sebagian besar adalah memasak, mencuci piring, mencuci pakaian, merapikan rumah, mengasuh anak, dan pekerjaan lain yang umumnya dilakukan oleh sosok ‘wanita’. Di sini, peran mama jauh lebih besar daripada itu .

Peran sebagai pencari nafkah yang secara umum dilakukan oleh sosok ‘bapak’, diambil alih juga oleh mama. Eits, mungkin ketika mendengar kata ‘pencari nafkah’, yang dipikirkan adalah sosok yang bekerja dan mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Di sini, dalam konteks Papua pedalaman yang masih hidup secara tradisional , maka konsep pencari nafkah agak berbeda dengan di kota besar. Pencari nafkah tidak hanya terbatas pada bekerja dan mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Di sini, pencari nafkah itu artinya bekerja (berkebun) dan memanen hasil kebun untuk kebutuhan keluarga sehari-hari.

Mungkin ketika mendengar kata ‘berkebun’, yang terbayang adalah kegiatan menanam bunga di taman. Tentunya, di sini berbeda (lagi). Kegiatan berkebun itu dimulai dari membuka lahan dengan pembakaran atau pembabatan tanaman liar (biasanya dibantu oleh bapak), pembersihan lahan, hingga penanaman kasbi (singkong), pisang, keladi, pepaya, sayur kasbi, kangkung, gedi, rica (cabe), bayam. Hampir setiap hari, mama pergi ke kebun dan memanen hasil kebun untuk dibawa ke rumah dan dimasak untuk konsumsi keluarga.
Lokasi kebun tidaklah dekat atau berada tepat di samping ataupun belakang rumah. Mencapai kebun, mama harus berjalan menuju dermaga sekitar 10 menit, kemudian menyeberangi kali (sungai) Kais menggunakan perahu kecil (mendayung), sekitar 10 menit. Sesampainya di seberang, perjalanan masih dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 10 menit untuk kebun terdekat, dan bisa 20 menit untuk kebun terjauh. Perjalanan masih bisa dibilang mudah ketika menuju kebun. Akan tetapi, ketika dari kebun menuju kampung, perjalanan tidak bisa lagi disebut mudah dengan adanya bawaan hasil kebun berupa kasbi, pisang, dan sayuran. Kalau hanya sayur masih tidak seberapa, tapi jika sudah membawa kasbi dan pisang. Pu berat apa. Hasil panen yang dibawa tidaklah sedikit karena akan dikonsumsi untuk 2-3 hari, dan biasanya itu tidak hanya untuk keluarga di rumah, tetapi untuk keluarga yang tinggal di rumah lain ataupun tetangga. Jadi, bayangkan saja banyaknya seberapa. Untuk membawa hasil panen tersebut, mama menggunakan noken (tas) yang terbuat dari karung beras dan dipikul di atas kepala.
Tidak hanya itu, hal lain yang juga bisa dilakukan mama adalah menjadi ‘motorist’ ketinting (perahu bermesin). Kemampuan ini perlu dimiliki karena ada beberapa lokasi kebun yang jaraknya jauh, yaitu sekitar 1 jam menggunakan ketinting. Selain itu, kemampuan ini juga dibutuhkan saat mama menjaring ikan. Menjaring ikan dilakukan di aliran kali Kais dengan lokasi yang harus ditempuh menggunakan perahu (mendayung) sekitar 20 menit jarak terdekat. Atau ketinting untuk yang jaraknya agak jauh .
Satu hal lagi yang membuat saya terpukau adalah kekuatan kepala dari mama. Semua barang yang dibawa mama, pasti dipikul di atas kepala, baik dengan atau tanpa noken. Selain hasil kebun, ketika mencuci piring ataupun pakaian, semuanya dimasukkan ke dalam baskom besar dan dipikul di atas kepala. Begitu juga dengan kayu bakar. Pencarian kayu bakar untuk memasak juga dilakukan oleh mama. Untuk mendapatkan kayu bakar, mama harus berjalan menuju hutan yang jaraknya tidak dekat, sekitar 20 menit untuk jarak terdekat. Setelah itu, menebang pohon, dan membawa pulang kayu bakar yang sudah dipotong-potong menggunakan noken di atas kepala. Kayu bakar yang dibawa tidak sedikit karena akan digunakan untuk beberapa hari agar tidak setiap hari mencari kayu bakarnya.
Hal lainnya yang dilakukan mama adalah menimba air minum dan air masak. Dengan kondisi kampung yang ada, kebutuhan air minum dan masak harus diambil di perigi (sumber air) yang tentunya tidak berada tepat di belakang rumah walaupun tidak terlau jauh juga (sekitar 3-5 menit). Untuk mengangkut air, mama menggunakan jerigen berukuran 5 liter. Sekali menimba, mama bisa membawa 4-6 jirigen. Caranya adalah menggunakan kain atau selendang yang dimasukkan ke dalam lubang pegangan semua jirigen. Setelah itu, kain atau selendang diikat di depan dada , seperti posisi menggendong bayi di punggung. Terkadang, kain atau selendang diikat di atas kepala, seperti halnya saat memikul noken berisi hasil panen ataupun kayu bakar.
Itulah gambaran ‘pekerjaan rumah’ yang dilakukan mama-mama di kampung IkMut dengan tetap melakukan ‘pekerjaan rumah’ pada umumnya, seperti memasak, mencuci piring, mencuci pakain, merapikan rumah, dan mengasuh anak. Karena itulah, saya memberi sebutan Wonder Mother  untuk mama-mama di kampung ini.

]]>
<![CDATA[AGUS HADOME : Pendorong Perubahan di Kampung Sumano]]>Wed, 29 Apr 2020 01:21:46 GMThttp://yppti.org/blog/agus-hadome-pendorong-perubahan-di-kampung-sumanoPicture
​Bapak Agus Hadome merupakan salah satu tokoh masyarakat di Kampung Sumano. Beliau adalah salah satu Change Leaders yang kami pilih untuk didampingi untuk nantinya menjadi Penggerak Lokal (Local Champions) penggerak perubahan di kampungnya. Bapak Agus sangat aktif mendukung program Penggerak dan yang paling sering diskusi dengan Penggerak. Beliau yang paling terlihat perubahannya dalam pendidikan. JIka sebelumnya Bapak Agus tidak terlalu peduli dengan pendidikan anak, saat ini Bapak Agus aktif mendorong anak untuk sekolah baik yang sekolah di kampung maupun yang di Kota Teminabuan. Seringkali Bapak Agus menguji anaknya untuk membaca dan mendampingi anak belajar membaca di rumah. Sementara untuk anaknya yang saat ini di bangku SMA di Teminabuan, Bapak Agus aktif melakukan monitoring pekembangan belajar anaknya. Setiap bulan, jika berkunjung ke Teminabuan, Bapak Agus selalu menghubungi wali kelas untuk menanyakan perkembangan belajar anaknya. Bapak Agus juga konsisten memenuhi kebutuhan anaknya di Teminabuan.
 
Tak hanya itu, Bapak Agus juga peduli terhadap pendidikan di Kampung Sumano. Saat Penggerak akan mengadakan jam belajar tambahan di Sebua (aula tempat berkumpul masyarakat kampong), Bapak Agus berinisiatif membuat papan tulis dan diletakaan ke beberapa tempat yang biasa digunakan oleh Penggerak untuk mengajar informal sore hari. Bapak Agus bersama Penggerak juga menginisiasi adanya Taman Baca Sumano.

Bapak Agus mengijinkan rumahnya digunakan untuk taman baca. Bapak Agus juga membuat dan melengkapi kebutuhan taman baca seperti rak buku, papan tulis dan memperbaiki teras rumah yang digunakan anak-anak untuk belajar dan membaca. Jika tidak ada Penggerak, Bapak Agus tetap mempersilakan anak-anak yang mau membaca buku di taman baca teras rumahnya. 
 
Beliau juga salah satu yang paling aktif berbagi kegiatan dan ide tentang bagaimana seharusnya kegiatan pembelajaran yang dilakukan di kampung. Untuk mempengaruhi kehadiran guru, Beliau bersedia untuk mengorganisir petisi dari masyarakat kampung untuk melapor tentang kekosongan guru di kampung. Saat itu yang terjadi kehadiran mereka sangat minim; hanya datang ketika akan diadakan ujian. Saat mulai mengumpulkan petisi, ternyata guru GGD yang di kampung Sumano sudah datang. Penggerak dan Bapak Agus menunda pengumpulan petisi dan melihat komitmen guru yang hadir. Setelah itu Beliau sering memastikan dan mengajak diskusi guru GGD tentang programnya, serta membuat nyaman para Guru dengan salah satunya memberi hasil menjaring ikan kepada GGD, serta memperbaiki lampu di Kopel Guru untuk penerangan ketika rusak. Hal ini Beliau lakukan agar para Guru bisa betah tinggal di kampung dan meningkatkan kuantitas pengajaran.
 
Di bidang ekonomi rumah tangga, Bapak Agus juga aktif belajar berkebun bersama Penggerak. Saat ini, Bapak Agus sudah mempunyai kebun. Bapak Agus juga sudah mulai belajar menanam beberapa sayuran seperti bayam, kacang panjang, dan kangkung. Bapak Agus juga pernah mencoba menanam semangka, meski dengan hasil yang kurang maksimal. Dalam melengkapi kebutuhan bertanam, Bapak Agus satu-satunya di Kampung Sumano yang secara mandiri membeli benih di Teminabuan.
 
“saya yang dulu minta agar yayasan ini, dampingi orang Sumano untuk berkebun. Jadi hasil kebun itu bisa kasi makan anak dan istri. Sayur yang tong tanam juga itu dia bentuknya banyak. Jadi tra makan sayur itu-itu saja. Tong bisa tanam sayur kacang, sawi, ada juga kankung, terong dan tong juga bisa tanam buah semangaka dan bisa makan, anak-anak ini dong bisa rasa buah itu juga. Nanti dari hasil kebun sayur itu juga tong bisa pi jual dalam kampung sini saja dolo, banyak yang cari sayur o… jadi saya senang dengan pendampingan kebun ini. Anak guru de ajar banyak skali. Tanam itu tra boleh asal, nanti hasil tra baik”

Selain itu, bapak Agus sejauh ini cukup aktif mengikuti pendampingan lainnya yakni pelatihan laptop. Bapak Agus adalah mantan kepala kampung, namun ia mengakui bahwa tidak mahir dalam tupoksi dan pengoperasian laptop yang baginya itu penting sebagai penunjang pekerjaannya. Kapasitas bapak Agus dalam mengoperasikan laptop sudah baik. Beberapa dasar pengoperasian sudah dipahami dan dipraktekannya secara langsung. Bapak Agus mengakui dengan keberadaanya penggerak Yayasan sangat memberi dampak positif bagi kampung Sumano. Banyaknya program yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat membuatnya yakin bahwa hadirnya penggerak adalah kesempatan berharga bagi masyarakat Sumano untuk lebih banyak mau belajar,

orang Sumano ini dong harus mau belajar dari orang luar sana e, dong yang mau datang dari luar kampung trus ajar kami yang ada di kampung yang jauh begini ni. Tong beryukur anak-anak Yayasan dong bisa masuk ke kampung ni, terus ajar kami yang baik-baik. Ajar kami punya anak-anak dong yang dulu trada guru, sekarang ada, trus yang dulu buta huruf sekarang ada yang su lancar skali baca, ada juga yang balik ajar dong pung orang tua kenali huruf. Anak Yayasan juga datang ajar kami punya istri, mama dorang buat bikin kue, tahu kue enak trus ajar mama dong bajual, uang itu kalo su dapat dong juga ajar tong tabung uang, biar jang uang dia habis tempo. Dong juga ajar orang tuan dong biar tau urus anak tu baik-baik. Perhatikan anak dong pung perkembangan belajar dari sekolah dan di dalam rumah. Baik sudah anak dong sum au bantu kami banyak. Tingal deng kami juga lama-lama”

Bapak Agus pun menyadari bahwa pendampingan oleh kami dalam bidang Pendidikan dan ekonomi rumah tangga, adalah bentuk dari pemberdayaan mama-mama lokal agar mampu menghasilakan pendapatan tambahan, agar tidak terlalu bergantung hidup hanya pada perusahaan saja. 
]]>
<![CDATA[Toleransi di pelosok papua]]>Mon, 09 Mar 2020 04:48:05 GMThttp://yppti.org/blog/toleransi-di-pelosok-papuaPenulis : 
Pritha Aritonang

Picture

" Ibu, sudah tahu makan Papeda ?" Tanya mama Orpha kala itu, saat pertama kali aku sampai di Kampung Benawa.

"Belum tahu mama, tapi saya coba makan ", jawabku ke mama.

Saat papeda ku makan, dan mulai melewati tenggorokanku, terasa lengket dan membuat aku sedikit merasa mual.

Mama melihatku, kemudian berkata:
" Pelan pelan saja Ibu, kalau belum biasa memang rasanya agak aneh di mulut, makan sedikit saja, jangan dipaksa".

Mendengar mama menyampaikan permakluman dan paham akan apa yang aku rasakan, membuatku lega. Aku ingin cepat beradaptasi dan mencoba semua makanan baru, namun butuh proses juga untuk menyesuaikannya.

Oiya, Papeda adalah makanan berupa bubur sagu khas Maluku dan Papua yang biasanya disajikan dengan ikan yang dimasak dengan dibumbui kunyit (Ikan Kuah Kuning). Papeda juga merupakan makanan utama masyarakat Papua, pun Kampung Benawa Satu.
 
Selama berada di Kampung, banyak makanan yang memang belum pernah kutemui, apalagi dikonsumsi sebelumnya. Papeda adalah salah satunya. Masih ada ulat sagu, kumbang, ujung sagu, jamur dan banyak jenis makanan lain.
Bisa beradaptasi, kemudian menyesuaikan dengan cepat tentu menjadi keinginanku. Tetapi apa daya, semua membutuhkan proses.
 
Dalam proses penyesuaian ini, aku terpesona dengan penerimaan dan toleransi dari keluarga piara bahkan masyarakat secara umum terhadap proses yang kulalui. Mereka tak memaksaku untuk segera mengikuti setiap kebiasaan disini.
 
Bapa Mama di kampung, bahkan dengan besar hati memahami bahwa kita memang beragam, ada kebiasaan , keyakinan berbeda dan sah sah saja. Suatu kali seorang teman muslim menginap di rumah. Makanan yang ada saat itu adalah daging babi hasil buruan Bapak. Mama menyampaikan, tidak mungkin memasak makanan ini, sementara ada temanku yang tidak bisa memakannya.  

Mendengar penyampaian mama, Bapakku pergi lobe ikan (memburu ikan dengan tombak) di Sungai. Dan yang kuingat saat itu, Bapak pulang membawa satu ekor ikan gabus besar. Mamaku lega, karena bisa membuatkan makanan yang tepat untuk temanku.
 
Aku terpesona, melihat betapa mereka memikirkan orang lain, di tengah mayoritas keyakinan yang sama di Kampung Benawa. Perbedaan yang ada, justru membuat mereka semakin menghargai satu sama lain. Walaupun dengan kondisi kampung yang jauh dari kemajuan, justru rasa tenggang rasa satu sama lain terasah dengan baik.
]]>
<![CDATA[RENI MOINE : Menularkan semangat pendidikan]]>Mon, 24 Feb 2020 07:34:36 GMThttp://yppti.org/blog/reni-moine-menularkan-semangat-pendidikanPenulis :
​Fevrina Leny Tampubolon, dkk.

Picture
​Reni Moine atau yang akrab dipanggil Kakak Reni lahir di Benawa Satu, Distrik Kais, Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat, pada tahun 1983. Kakak Reni merupakan istri dari  Marius Akerae, Baperkam kampung pemekaran Mokere. Kakak Reni aktif sebagai Bendahara PKK kampung Mokere dan juga merupakan kepala borongan. Walaupun memiliki pengaruh yang cukup besar, akan tetapi Kakak Reni belum memiliki kepedulian yang besar terhadap pendidikan anaknya. Pada awal program Kakak Reni tidak mempedulikan perkembangan belajar anak-anaknya dan bahkan membiarkan saja bila anak-anaknya bolos sekolah. Kehadiran penggerak cukup membawa pengaruh bagi Kakak Reni. Kegiatan pembelajaran yang aktif, peningkatan kemampuan baca tulis dan hitung anak-anak serta diskusi melalui home visit yang dilakukan Penggerak berhasil merubah cara pandang dan perilaku Kakak Reni.
 
Kakak Reni menunjukkan perubahan yang cukup progresif terutama dalam mendorong dan mendampingi anak-anaknya di bidang pendidikan. Pemahaman akan pentingnya pendidikan serta pengawasan dalam proses perkembangan belajar anak, mendorong Kakak Reni untuk memenuhi  kebutuhan dasar sekolah untuk anak-anaknya seperti menyediakan alat tulis, buku, seragam dan kebutuhan lainnya. Selain memenuhi kebutuhan dasar, Kakak Reni juga mengharuskan anaknya untuk lulus SMA,  Kakak Reni juga mendorong anaknya yang SD untuk aktif hadir di Sekolah. Kakak Reni dengan sengaja meninggalkan anaknya yang duduk di bangku SD dengan nenek di kampung agar bisa masuk Sekolah.  Kepedulian terhadap masa depan pendidikan anaknya juga mendorong Kakak Reni untuk mulai menabung. 

Picture
Kesadaran akan pentingnya pendidikan yang sudah terbangun dalam diri Kakak Reni mendorongnya untuk lebih terlibat aktif dalam pengembangan pendidikan di kampungnya. Kakak Reni mulai aktif di kegiatan sekolah dan memberikan suara atau kritik atas kebijakan-kebijakan yang dibuat sekolah. Kakak Reni juga mempengaruhi orang tua lain untuk semakin peduli akan pentingnya mendukung pendidikan anak. Komunikasinya yang baik membuat orang lain dapat menerima dan memahami pesan yang disampaikan dengan baik.
 
 “apa yang anak guru dong kasi tahu ke kami orang tua ini, itu baik bagi tong pung anak pung masa depan. Anak guru selalu kasih tahu kalau temani anak belajar itu wajib buat orang tua. Guru-guru dong itu kan tra tinggal deng tong pung anak, dong hanya tahu tong anak itu pas di sekolah saja. Makanya orang tua itu yang harus kerja keras buat anak juga. Anak pung jam belajar itu tong harus arahakan, tong kontrol. Duduk disamping anak saat dia belajar itu perlu to. Jadi tong orang tua juga bisa tau, anak ini selama ini dia nbenaran belajar kah trada. Betul kah trada dia bilang pi sekolah, jang sampe dia tipu kami lagi kan tra baik to. Jadi betul sudah yang anak guru dong bilang. Dan yang sa su buat ke sa pung anak anak yang dong ada sekolah banyak-banyak tuh, sa duduk temani dorang. Sa baku tanya deng dorang, dong di sekolah itu guru ajar kam baran apa sajakah? Baru dong mengerti kah trada kalau guru dong ajar di sekolah. Kalau anak guru ini dong tra datang dari yayasan ini, kami orang tua ni tra tau e bisa tahu anak-anak dong pung pendidikan baik kah trada e. jadi sa bersyukur anak dari yayasan dong datang ke kampong ini buat ajar kami didik anak.”
 
Selain terlibat aktif untuk memajukan pendidikan, Kakak Reni juga cukup aktif dalam kegiatan pemerintahan kampung. Pendampingan penggerak memberikan penyuluhan terkait tupoksi aparat kampung berhasil meningkatkan pengetahuan Kakak Reni terkait tupoksi aparat kampung.  Pemahaman tupoksi aparat kampung mendorong Kakak Reni lebih aktif dalam mengkritisi kinerja aparat kampung. Sebagai istri aparat kampung pemekaran, pemahaman tupoksi aparat kampung juga digunakan untuk mengingatkan tugas dan peranan suaminya.  Lebih dari itu Kakak Reni aktif mendukung ketua PKK kampung pemekaran menjalankan kegiatan PKK.
 
Kakak Reni aktif terlibat dalam berbagai kegiatan dan pendampingan yang dilakukan penggerak salah satunya pendampingan tata boga. Dalam kurun waktu kurang dari 1 tahun, Kakak Reni mampu belajar dan membuat lebih dari 10 resep kreasi kue baru. Saat ini di kampung Kakak Reni diakui juga sebagai salah satu mama yang  cukup baik dalam memasak dan selalu terlibat masak di berbagai acara di kampung. Kakak Reni sudah tahu membuat beberapa macam roti, kue basah, dan kue kering, Bahkan kakak Reni suka berinisiatif sendiri membuat kukis untuk kemudian dijualnya sendiri di kampung atau di perusahaan. Sebagai anggota kelompok tata boga kakak Reni juga berpartisipasi membuat kukis bila ada pesanan kukis sagu dari luar. Pengetahuan yang sudah diperoleh Kakak Reni dalam kelompok boga digunakan juga untuk mengembangkan PKK desa pemekaran.  
 
“Kalau tarada Pa Guru di sini yang ajar kitong buat macam-macam kue, kitong mama-mama ini tarada yang tau buat kue-kue baru begini o.

]]>
<![CDATA[KITA SAMA, KITA INDONESIA]]>Tue, 18 Feb 2020 15:16:25 GMThttp://yppti.org/blog/kita-sama-kita-indonesiaPenulis :
Pritha Aritonang

.

"Kakak, Papua itu Indonesia kah?"

Lain waktu pertanyaan lain muncul, "Kakak,kenapa kitong punya rambut keriting tapi kakak pu rambut Lolo ( Lurus)?"

"Kalau boleh kitong pu rambut lurus boleh."

Pertanyaan pertanyaan yang membuat saya terkejut, karena dilontarkan oleh adik angkat saya yang umurnya  baru 9 tahun
"Kakak, Papua itu Indonesia kah?"

Lain waktu pertanyaan lain muncul, "Kakak,kenapa kitong punya rambut keriting tapi kakak pu rambut Lolo ( Lurus)?"

"Kalau boleh kitong pu rambut lurus boleh."

Pertanyaan pertanyaan yang membuat saya terkejut, karena dilontarkan oleh adik angkat saya yang umurnya  baru 9 tahun.

Dan dengan segera saya jawab,
"Tentu saja, Papua itu adalah bagian dari Negara Indonesia."
Saya menjelaskan seraya menunjukkan Atlas yang memuat Peta Indonesia dan dimana tepatnya Papua berada dan menceritakan ada pulau apa saja selain Papua, dan tentu saja semua adalah bagian dari Negara Indonesia. Dan rambut keriting tidak lantas mengurangi nilai mereka sebagai satu kesatuan Indonesia.
 
Tak pernah terbayang ataupun terbersit dalam angan sekalipun, berkesempatan untuk tinggal, belajar bersama, berproses bersama di pulau paling timur dari Indonesia ini, Papua.

Surga kecil yang jatuh ke bumi, bukan tanpa alasan kalimat ini diucapkan. Kekayaan alam melimpah, masyarakat dengan adat yang sangat kental dengan budaya berbagi, gotong royong dan satu hal yang paling hebat adalah toleransi. Tidak memaksakan apa yang dirasa benar.

Saya tinggal di salah satu desa di Kabupaten Sorong Selatan yang bernama Benawa, jika dihitung waktu tempuh dari Sorong, perjalanan menuju desa Benawa  adalah 10 jam dengan perjalanan darat dan laut.

Sekolah ada, namun saat saya sampai, guru sudah tidak mengajar dan hanya datang saat ujian nasional dalam lima tahun terakhir. Tingkat baca tulis cukup rendah saat itu. Saya memilih untuk bermain dan belajar huruf bersama adik adik, belajar yang tak harus digedung tetapi bisa dimana saja. Di pinggir sungai, di bawah pohon, bahkan di sebua ( Rumah Adat).
 
Perlahan tapi pasti, adik adik mulai mengenal huruf, mengeja, membaca dan kami belajar mengenai banyak hal yang ada di pulau-pulau lain. Perlahan tapi pasti, penyadaran mengenai pentingnya pendidikan dan kehadiran guru mulai kami gaungkan. Karena walaupun adik-adik berada jauh dari kota, mereka pun berhak untuk mendapatkan pendidikan, dan tenaga pendidik yang layak. Januari tahun 2018 adalah momen tak terlupakan,  karena guru yang kami tunggu-tunggu akhirnya datang, setelah perjuangan dua tahun menunggu. Adik adik senang bukan kepalang, karena aktivitas di sekolah akan dimulai. Perjuangan panjang, yang tentu saja memerlukan pelibatan dan peran orang tua, aparat kampung , pihak gereja bahkan dinas pendidikan hingga pemerintahan yang lebih  tinggi saat itu.

Selain kehadiran guru, perpustakaan mini dengan berbagai buku bacaan anak juga sudah ada di Benawa. Sehingga adik adik bisa mengakses pengetahuan lebih luas lagi lewat membaca.
 
Perkembangan lain yang tak kalah penting adalah melihat peran dan keterlibatan orang tua secara langsung dalam pendidikan anak, terutama di rumah. Penyadaran bahwa belajar tak melulu harus dilakukan di Sekolah, tetapi juga bisa dilakukan saat di hutan, tokok sagu, berburu dan menangkap ikan di Sungai.

Tentu saja dibutuhkan peran berbagai pihak agar semua hal yang sudah dimulai ini berjalan dengan baik kedepannya.

Walaupun bentuk kita berbeda, kita tetap satu Indonesia.
 
Perbedaan ini justru membuat keunikan pada setiap kita, perbedaan justru membuat kita belajar untuk belajar mengenai banyak hal

​Perbedaan justru membuat kita bersatu lebih erat lagi. Semangat inilah yang seharusnya terus kita gaungkan, bahkan sampai di tempat adik adik kita di Papua.
 
Kalian tahu? Mendengarkan suara adik adik menyanyikan Indonesia Raya dengan lantang,  melihat mereka selalu bangun lebih pagi untuk sampai di Sekolah lebih dulu, mendengarkan keseriusan dalam merangkai huruf menjadi kata dan kalimat, membuatku yakin suatu saat akan muncul pemimpin baru dari Benawa , Papua Barat, Indonesia.
 
Kita Sama, Kita Indonesia.

Saya berharap, pendidikan layak, akses untuk berkembang tak hanya bergaung di Kota besar saja, tetapi juga akan sampai ke Papua.

Dan semua anak anak Indonesia dari Sabang sampai Merauke, Jakarta sampai Papua bisa dengan bangga bisa berkata, Ini Kami Indonesia!
]]>
<![CDATA[Nasia Damawe]]>Wed, 12 Feb 2020 00:01:07 GMThttp://yppti.org/blog/nasia-damawe
Selamat datang di blog kami, para penggerak Sorong Selatan. Nantikan cerita-cerita kami!
]]>